Ratusan Tukik Penyu Dilepas di Pantai Kampung Makimi Nabire

NABIRE – Untuk melestarikan satwa liar milik negara, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melalui Bidang KSDA Wilayah II Nabire melepasliarkan 200 ekor tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Kegiatan berlangsung Senin (29/8/2022) di Pantai Kampung Makimi, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua. Diketahui dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, penyu lekang terdaftar sebagai satwa yang dilindungi undang-undang. Sementara dalam IUCN Red List, penyu lekang berstatus Vulnerable/VU (rentan) dengan tren populasi menurun. Di sisi lain, CITES menetapkan penyu lekang dalam daftar Appendix I. Hal ini berarti  dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

 Kepala Bidang KSDA Wilayah II Nabire, La Ode Ahyar Thamrin Mufti menyampaikan, tukik penyu lekang yang dilepasliarkan tersebut merupakan hasil penangkaran semi alami oleh kelompok Desa Binaan Konservasi Rasama di Kampung Makimi dan Mossa Bomia di Kampung Nifasi, Nabire, Papua.

Jajaran pantai di kedua kampung tersebut merupakan tempat pendaratan penyu setiap musim bertelur. “Tukik-tukik berasal dari dua desa binaan, tetapi lepas liar kami fokuskan di satu tempat, yaitu Pantai Kampung Makimi, mengingat dua kampung tersebut saling berdekatan dan pantai-pantainya juga bersambungan,” kata Ahyar.

 Lanjutnya kesadaran masyarakat telah muncul terkait konservasi penyu. Pemerintah Kampung Makimi dan Nifasi juga mendukung konservasi penyu ini, sehingga terjalin sinergi yang baik di antara semua pihak.

Selain itu, ada juga para pemerhati penyu, seperti Piet Hein Wanarina dari Kelompok Rasama dan Eliakim Rumawi dari Kelompok Mossa Bomia. Mereka tahu bahwa penyu termasuk satwa yang dilindungi undang-undang.

Menurut Ahyar, umumnya para pemerhati penyu sangat prihatin atas perburuan penyu yang sangat tinggi di Kampung Makimi dan Nifasi. Mereka pun terpanggil untuk melindungi populasi penyu di wilayah kampung masing-masing, dengan harapan agar tingginya populasi penyu yang mereka jumpai saat masih anak-anak dapat kembali seperti dulu lagi.

“Untuk mengantisipasi sarang yang tidak aman dari predator dan abrasi pantai, kelompok desa binaan membuat penangkaran semi alami. Namun, untuk kondisi sarang yang sekiranya aman, telur-telur penyu tetap mereka biarkan menetas di tempat alaminya,”bebernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *